lembang trip @de ranch. #amazingholiday
Sweety Sabrina
menulis, pengalaman #celotehmemorimasalalu
Menulis memang bukan pekerjaan yang sulit untuk dikerjakan. Tetapi, ada satu bagian penting yang tidak boleh kita lewatkan saat menulis yaitu bagaimana ide dan pesan yang disampaikan itu dapat tersalurkan dengan baik. Setiap orang bisa menulis. Tetapi, apakah setiap orang dapat menulis dengan baik?. Pengalaman menulisku tidak terlalu mulus dalam perjalanan sejarahnya. Pertama kali aku benar-benar merasakan menulis adalah pada saat kuliah. Mungkin beberapa orang akan berpendapat ‘ironis sekali anak ini baru merasakan nikmatnya menulis’ atau ‘ngapain saja di sekolah kalau tidak pernah menulis?’. Aku termasuk anak yang penurut, jarang keluar rumah, pendiam, suka melamun dan (lumayan) rajin. Apa yang aku pelajari di sekolah? cekokan-cekokan ilmu yang aku sendiri tidak tahu fungsinya. Teori-teori yang sudah berabad-abad umurnya. Meskipun begitu, aku tetap mempelajarinya dengan hafalan yang baik demi nilai yang bagus.
Sekolah-sekolah swasta di Medan memang tidak menitikberatkan muridnya untuk menulis. (sekolah negeri mungkin ada). Salah satu sebabnya mungkin karena penjurusan yang aku ambil adalah ilmu alam. Sebab kedua adalah lingkungan sekolah yang didominasi oleh etnis tionghoa. Murid ilmu alam (IPA) di sekolahku difokuskan pada pelajaran fisika, kimia, matematika dan bahasa inggris. Sedangkan pelajaran seperti sejarah dan geografi hanya sekedar dipelajari begitu saja. Maksudnya, bukan menjadi priotitas ilmu yang harus dipahami apalagi oleh anak IPA.
Tugas menulis pertamaku adalah membuat paper untuk mata kuliah tertentu (aku lupa mata kuliah apa). Dengan bahasa yang acak kadut dan kosakata yang sedikit, aku berusaha menyelesaikan dengan baik tugas tersebut. Karena sering membuat paper, perlahan kemampuan menulisku terasah (meski belum bagus sekali). Kemudian aku baru tahu bahwa membaca sangat membantu kita untuk memperkaya kosakata. Menulis sebenarnya menyenangkan. Menulis membuat kita berpikir. Menulis membuat pikiran kita lebih terbuka. Terkadang aku sangat sedih dengan kondisi sekolah swasta di medan yang notabene muridnya tionghoa. Mengapa guru di sekolah tersebut tidak membantu murid dalam hal menulis? Mengapa menulis dianggap remeh?. Sekolah perlu dibenahi terutama guru. Aku berharap suatu hari sekolah di Medan bisa lebih baik. Tidak semata memproduksi muridnya untuk menjadi seorang robot.
Semoga…